Dulu Disebut Seperti Toaster dan Kulkas, Kini Apple Jual MacBook Touchscreen Mulai Rp40 Jutaan

Portal Gadget Kincai Media by 4 min read 105x views
Dulu Disebut Seperti Toaster dan Kulkas, Kini Apple Jual MacBook Touchscreen Mulai Rp40 Jutaan

Share Post

Apple akhirnya menghadirkan MacBook Pro dengan layar sentuh melalui teknologi PROLED XDR. Namun, ada satu hal menarik dari peluncuran ini, Apple seolah-olah baru menemukan teknologi touchscreen, padahal laptop Windows sudah menggunakannya sejak bertahun-tahun lalu.

Bahkan, CEO Apple saat ini, John Ternus, ikut mempromosikan fitur tersebut dengan mengatakan, “You’ve gotta touch it to believe it.” Sepertinya pelanggan Windows sudah lebih dahulu percaya sejak 2009.

Apple Menjelaskan Touchscreen Seperti Teknologi Masa Depan

Nah dalam materi promosinya, Apple memperkenalkan kapabilitas tap, swipe, scroll, hingga pinch-to-zoom sebagai metode baru berhubungan dengan Mac.

Bahkan, halaman produknya menjelaskan fungsi setiap gestur tersebut, misalkan Scroll dijelaskan sebagai menggeser jari untuk bergeser konten, sementara pinch digunakan untuk memperbesar maupun memperkecil tampilan.

Apple menyebutnya sebagai Magic on tap, padahal, bagi pelanggan laptop Windows touchscreen, fitur seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Selain itu, teknologi sensor sentuh yang terintegrasi langsung ke panel layar juga bukan sesuatu yang benar-benar baru.

Misalkan saja Samsung Display terlebihlagi sudah memperkenalkan panel OLED laptop dengan teknologi tersebut pada Januari 2023, meski begitu, mesti diakui bahwa layar MacBook Pro terbaru memang menawarkan rincian menarik, termasuk tingkat kecerahan hingga 2.000 nits dan contrast rasio hingga 10.000.000:1.

Tim Cook Pernah Menyebutnya Seperti Toaster dan Kulkas

Nah ini bagiankecil paling menarik nih, yaitu pada tahun 2012 lalu, Tim Cook pernah membandingkan upaya menggabungkan tablet dan laptop dengan menyatukan toaster dan kulkas.

“You can converge a toaster and a refrigerator, but those aren’t going to be pleasing to the user.”

Menurutnya, keduanya mungkin bisa digabungkan, tetapi dampaknya belum tentu menyenangkan untuk pengguna, kecuali itu terlebihlagi Steve Jobs juga pernah mengungkapkan bahwa layar sentuh vertikal bukan pengalaman ideal karena pelanggan mesti terus mengadopsi tangan hingga terasa lelah.

Pernyataan serupa juga datang dari Craig Federighi dan Phil Schiller, dimana mereka sebelumnya beranggapan bahwa menggabungkan touch control dengan keyboard dan trackpad justru bisa mengorbankan pengalaman penggunaan Mac.

Bahkan, pada 2021, John Ternus statis menegaskan bahwa Mac dirancang untuk input tidak langsung melalui trackpad dan keyboard, sementara iPad sudah menjadi alat sentuh yang optimal.

Namun, kini ceritanya berubah. MacBook Pro touchscreen akhirnya hadir, dan fitur yang dahulu dianggap kurang ideal kini disebut betah serta praktis.

Windows Sudah Melakukannya Sejak Lama

Nah meskipun teknologi ini dianggap baru oleh Apple, tapi Microsoft sebenarnya sudah membawa sokongan multitouch ke Windows 7 pada 2009, yang kemudian dengan hadirnya Windows 8 dan lini Surface semakin mendorong penggunaan layar sentuh pada alat PC.

Bahkan, pada peluncuran Surface Pro 4 tahun 2015, Panos Panay sempat menyindir komentar Tim Cook dengan menampilkan konsep campuran toaster dan kulkas, yang akhirnya, kini touchscreen sudah menjadi fitur lazim di beragam laptop Windows, mulai dari alat 2-in-1 hingga laptop konvensional.

Jadi, ketika Apple memperkenalkan fitur tersebut sebagai pengalaman baru di Mac, pelanggan Windows mungkin cuma bisa tersenyum sambil berkata, “Welcome to the club guys.”

Harga Premium, Fitur Lama, dan Strategi Apple

Nah ini sih bukan hal ganjil lagi, karena alat ini tentu dijual dengan harga yang waw. MacBook Pro touchscreen terbaru dibanderol mulai US$2.899 maupun sekitar Rp47 jutaan sebelum pajak dan biaya lainnya.

Menurut laporan yang dari Bloomberg, Apple mengharapkan fitur premium dapat membantu perusahaan mematok harga lebih tinggi, dan tentu, MacBook Pro terbaru bukan sekadar laptop touchscreen. Apple juga menawarkan panel OLED, speaker dengan force-cancelling woofers, serta kamera 12MP Center Stage.

Namun, ada ironi tersendiri ketika fitur yang selama bertahun-tahun dianggap tidak cocok untuk Mac akhirnya dijual sebagai pengalaman baru dengan harga premium.

Disisi lain, mungkin Tim Cook benar, menggabungkan toaster dan kulkas memang belum tentu menyenangkan, namun menggabungkan laptop dan touchscreen? rupanya bisa juga loh, asal sudah waktunya masuk ke strategi produk Apple.

Nah sepertiapa menurutmu guys? coba komen dibawah apakah Anda punya pendapat?

Via : Windows Latest, Windows Central


Catatan Penulis : Kincai Media sepenuhnya bersandar pada iklan untuk statis hidup dan menyajikan konten teknologi berkualitas secara cuma-cuma — jadi jika Anda menikmati artikel dan panduan di situs ini, meminta whitelist halaman ini di AdBlock Anda sebagai bentuk sokongan agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pelanggan Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui sokongan di Saweria. Terima kasih.

Written by

Gylang Satria

Tech writer yang sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux, dan Samsung S24. Punya pertanyaan maupun butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]

Post navigation

Previous Post

Other Article Portal Gadget Kincai Media
↑
Close Right Ads
Close Left Ads